Lily dan Dita, Korban Mafia Trafficking di Lokalisasi Jarak

Posted: December 24, 2007 by antonsetiawan in General
Tags: , , ,

Senin, 24 Des 2007 – Jawapos

Diberitakan “Barang” Baru, Diantre mulai Siang hingga Jelang Pagi
Semakin panjang saja remaja yang menjadi korban trafficking. Hal itu menyusul terbongkarnya kasus dugaan perdagangan dua gadis yang dipaksa menjadi pemuas syahwat para lelaki hidung belang di kawasan Lokalisasi Jarak pekan lalu. Dua gadis itu kini mengalami trauma psikologis yang berat.

EKO PRIYONO

“Hidup saya kini tidak ada gunanya lagi. Saya sudah memalukan keluarga. Saya bingung…,” ujar Lily (bukan nama sebenarnya, Red), lalu menangis sesenggukan sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan ketika ditemui Jawa Pos di tempat persembunyiannya kemarin (23/12) sore.

Bersama Lily, ada Dita (nama samaran, Red), korban lainnya, yang kini menjalani terapi penyembuhan psikologis akibat kasus yang dialami.

Lily dan Dita adalah remaja 17 tahun yang pertumbuhan fisik serta jiwanya sedang mekar-mekarnya. Sejak 10 November lalu, keduanya tak berdaya berada di cengkeraman mafia perdagangan anak dan perempuan yang beroperasi di kompleks Lokalisasi Jarak.

Lily maupun Dita memang mempunyai latar belakang ekonomi keluarga yang pas-pasan. Karena itu, keduanya terpaksa tak bisa meneruskan sekolah di SMA dan harus bekerja untuk membantu orang tua. Kedua gadis lugu tersebut kemudian mengadu nasib ke kota. Lily meninggalkan keluarganya yang tinggal di Jombang dan Dita hijrah dari Kediri.

Awalnya, pertengahan 2005, Lily merantau ke Gresik. Di sana, dia bekerja menjadi babysitter. Tahun pertama, pekerjaannya lancar-lancar saja, meski mendapat gaji pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup di kota.

Namun, pertengahan 2007, mulailah petaka itu. Dia dipaksa melayani hawa nafsu majikannya, sebut saja Johan. “Saya sudah berusaha memberontak, tapi tak bisa. Dia mengancam saya dengan ilmu hitam yang katanya dari Gunung Kelud. Saya sangat takut. Akhirnya, saya hanya bisa pasrah,” ungkap perempuan berambut sepunggung itu.

Saat menceritakan “pengalaman pertamanya” tersebut, Lily kembali menangis histeris.

Sejak itu, dia mengaku putus asa akan masa depan hidupnya. Dia merasa sudah tidak berguna. Dia sangat malu.

Dalam suasana kalut dan bingung itu, Lily mendapat tawaran “manis” dari Johan. Menurut Lily, majikannya tersebut menawarkan pekerjaan yang gampang menghasilkan uang banyak. Dia lalu dibawa ke sebuah wisma di Jarak, Surabaya. Alangkah kaget Lily mendapati dirinya berada di kompleks mesum tersebut. Dia pun berupaya melarikan diri, tapi dihalang-halangi Johan. Lagi-lagi, Lily tak berdaya.

Maka, sejak 10 November lalu, bertepatan dengan Hari Pahlawan, dia “resmi” menempati kamar di sebuah wisma di Jarak. “Saya ingat betul karena waktu itu di kawasan Jarak banyak dipasang bendera merah putih dan umbul-umbul untuk menyambut Hari Pahlawan,” tegasnya.

Di tempat tersebut, penderitaan makin dirasakan. Sebab, kata Lily, Johan memaksa dirinya untuk selalu siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan para tamu hidung belang. “Sekali ngamar, saya dapat upah Rp 50 ribu,” kata Lily. Di antara jumlah itu, Rp 10 ribu diserahkan kepada pemilik wisma untuk sewa kamar.

Dalam waktu cepat, berita datangnya “barang” baru di wisma itu tersiar di telinga para pelanggan. Apalagi, Lily berwajah manis dan berkulit putih bersih. Maka, hampir setiap malam para pria bejat pun antre untuk mengencani Lily di kamar wisma. “Saya harus kuat melayani tamu sebanyak-banyaknya. Sudahlah Mas, saya tak kuat lagi menceritakan penderitaan saya ini,” ujarnya.

Lily sempat menambahkan, Minggu siang pekan lalu (16/12), dirinya harus melayani tujuh tamu secara berurutan. Malamnya, empat lelaki mengencani dirinya. Menjelang pagi, dia harus kembali melayani tiga pelanggan wismanya. “Saya kelelahan luar biasa. Tapi, saya tidak bisa tidur lama karena sewaktu-waktu harus melayani tamu. Biasanya, dalam sehari, saya hanya punya waktu istirahat empat jam,” jelasnya.

Pemerasan yang dilakukan Johan belum berakhir di wisma itu. Lily harus menyetor Rp 350 ribu per tiga hari. Menurut dia, uang itu merupakan “royalti” bagi Johan karena telah mencarikan pekerjaan enak bagi Lily. “Hampir seluruh uang yang saya peroleh diminta Mas Johan,” ungkapnya.

Dia pun hidup dari sisa uang yang ada. Namun, empat hari lalu (20/12), bertepatan dengan Idul Adha, semua itu berakhir ketika anggota Polresta Surabaya Selatan menggerebek wisma tempat kerja Lily. Dia akhirnya terlepas dari “penjara” abadi tersebut. Keduanya kemudian “diamankan” di sebuah lembaga yang peduli terhadap penderitaannya.

Nasib “mujur” menghinggapi Dita. Dia dibawa Johan ke Jarak pada Kamis (20/12) pagi. Sorenya, wisma itu digerebek polisi. “Untung, saya belum sempat melayani tamu,” kata Dita malu-malu. (ari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s