Jenis-Jenis Puasa

Posted: December 24, 2007 by antonsetiawan in Islam
Tags: , ,

Puasa adalah ibadah yang berarti menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan ibadah tersebut mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan adalah jenis puasa yang diwajibkan, sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 183-185. Jenis puasa lain yang diwajibkan adalah puasa kafarat (denda, tebusan) dan puasa nazar. Selain itu, ada juga puasa yang diharamkan, puasa makruh, dan puasa sunah.
Puasa haram. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; (1) Puasa sunah yang dilakukan seorang istri tanpa izin suaminya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Seorang istri yang hendak melakukan puasa sunah harus terlebih dulu diketahui dan mendapat izin dari suaminya. (2) Puasa yang dilakukan pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. (3) Puasa pada hari tasyrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijah. (4) Puasa yang dilakukan dalam keadaan haid atau nifas. (5) Menurut mazhab Syafi’i, puasa yang dilakukan pada pertengahan akhir bulan Syakban. (6) Puasa yang dilakukan oleh seseorang yang takut akan terjadi mudarat bagi dirinya apabila ia berpuasa.

Puasa sunah. Puasa jenis ini mencakup puasa sebagai berikut; (1) Puasa Daud, yaitu puasa yang dilakukan selang satu hari (sehari berpuasa sehari tidak, begitu seterusnya). Puasa ini, seperti dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, lebih utama dari puasa-puasa sunah lainnya. (2) Puasa selama tiga hari dalam setiap bulan Hijriyah, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. (3) Puasa pada hari Senin dan Kamis. (4) Puasa yang dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal, baik secara berturut-turut atau tidak.

Barangsiapa yang berpuasa belama enam hari sesudah puasa Ramadhan, ia seakan-akan telah berpuasa wajib sepanjang tahun. (HR Muslim, dari Abu Ayyub RA). (5) Puasa hari Artafah, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Muslim dari Abu Qatadah, Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun, setahun yang lampau dan setahun mendatang. Bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji, puasa pada hari itu tidak disunahkan, bahkan sebaliknya, disunahkan untuk tidak berpuasa. (6) Puasa pada hari ke delapan di bulan Dzulhijah (sebelum hari Arafah). Puasa ini disunahkan tidak saja bagi orang yang sedang melakukan ibadah haji tetapi juga orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. (7) Puasa Tasuu’aa, atau Asura, yaitu puasa yang dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharam. (8) Puasa pada al-asyur al-hurum, yaitu puasa yang dilakukan pada bulan-bulan Dzulkaidah, Dzulhijah, Muharam, dan Rajab. Keempat bulan ini merupakan bulan yang paling afdhal untul melaksanakan puasa sesudah bulan Ramadhan. (9) Puasa di bulan Syakban.

Puasa makruh. Ada tiga macam, yaitu: (1) Puasa yang dilakukan pada hari Jumat, kecuali telah berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. (2) Puasa wisaal, yaitu puasa yang dilakukan secara bersambung tanpa makan dan minum pada malam harinya. (3) Puasa dahri, yaitu puasa yang dilakukan terus-menerus. N disarikan dari ensiklopedi islam terbitan pt ichtiar baru van hoeve

About these ads
Comments
  1. Yusuf says:

    Assalamu’alaikum.

    Sy mw nmpang nny nh,

    bgaimana hukumnya puasa sedawuh (bhs. Jawa) dalam Islam?

    Sukron katsiron

    wassalamu’alaikum:-)

  2. andan says:

    saya tanya bung anton begini andaikata saya sedang puasa kemudian sedang tugas luar ( lapangan ) yang kebetulan saat itu cuaca panas dan medannya berat, dalam hati saya ingin bertahan puasa namun karena kondisi saya akan batal puasa , namun hati ini berontak antara ya dan tidak . sah kah puasa saya tersebut

  3. antonstwn says:

    Assalamu’alaikum

    bwt pak andan pada kondisi puasa apa pak? sunnah ato (wajib) ramadhan? klo pas puasa sunnah Insya Allah bapak diperbolehkan tidak berpuasa karena dari pengetahuan saya puasa sunnah itu berbeda dengan puasa wajib, klo sunnah kita tidak wajib untuk berniat. ini pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau selesai sholat shubuh, beliau pulang ke rumah dan menannyakan pada Aisyah apakah ada makan atau tidak? Aisyah berkata bahwa tidak ada makanan untuk dimakan, lalu rosulullah berniat berpuasa. setelah menannyakan ke istri yg lain, jawaban yang sama juga di dapat rosulullah klo tidak ada makanan yg bisa dimakan, dan akhirnya rosulullah melanjutkan puasanya. seperti itu yg dicontohkan Nabi kita. dari ilmu pengetahuan saya ketika mendengarkan ceramah jumat, bahwa klo kita sedang berpuasa sunnah semisal puasa senin kamis, dan kita telah berpuasa dari terbit fajar hingga jam 10 pagi misalnya, terus ada teman kita yg mengundang kita untuk menghadiri acara silahturahim dirumahnya, kita diperbolehkan untuk membatalkan puasa kita karena Allah sudah mencatat pahala puasa kita dari terbit fajar hingga kita membatalkan puasa sunnah kita. selain itu kita juga mendapatkan ganjaran dari Allah karena kita telah menghadiri undangan saudara kita. itu sekilas yg bisa saya berikan contohnya. kalo boleh tau Mas Andan waktu itu berpuasa apa?

    Wassalamu’alaikum wr wb

  4. antonstwn says:

    Assalamu’alaikum wr wb

    Untuk pertanyaannya mas Yusuf, jujur saya belum pernah mendengar tentang puasa sedawuh, apakah puasa sedawuh ini sama dengan puasa daud? klo memang iya, puasa ini dibenarkan dalam islam dan hukumnya sunnah. sekiranya itu yg bsa saya jelaskan.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s